Kamis, 20 Juni 2013

Sifat Senyawa Belerang


Belerang berwarna kuning pucat, padatan yang rapuh, yang tidak larut dalam air tapi mudah larut dalam CS2 (karbon disulfida).  Dalam berbagai bentuk, baik gas, cair maupun padat, unsur belerang terjadi dengan bentuk alotrop yang lebih dari satu atau campuran.  Dengan bentuk yang berbeda-beda,  akibatnya sifatnya pun berbeda-beda dan keterkaitan antara sifat dan bentuk alotropnya masih belum dapat dipahami.
Pada tahun 1975, ahli kimia dari Universitas Pensilvania melaporkan pembuatan polimer belerang nitrida, yang memiliki sifat logam, meski tidak mengandung atom logam sama sekali. Zat ini memiliki sifat elektris dan optik yang tidak biasa.
Belerang dengan kemurnian  99.999+% sudah tersedia secara komersial.
Belerang amorf atau belerang plastik diperoleh dengan pendinginan dari kristal secara mendadak dan cepat. Studi dengan sinar X menunjukkan bahwa belerang amorf memiliki struktur helik dengan delapan atom pada setiap spiralnya. Kristal belerang diduga terdiri dari bentuk cincin dengan delapan atom belerang, yang saling menguatkan sehingga memberikan pola sinar X yang normal.

Isotop
Belerang memiliki sebelas isotop. Dari empat isotop yang ada di alam, tidak satupun yang bersifat radioaktif. Belerang dengan bentuk yang sangat halus, dikenal sebagai bunga belerang, dan diperoleh dengan cara sublimasi.

Senyawa-senyawa
Senyawa organik yang mengandung belerang sangat penting. Kalsium sulfur, ammonium sulfat, karbon disulfida, belerang dioksida dan asam sulfida adalah beberapa senyawa di antara banyak senyawa  belerang yang sangat penting

menghitung produsen makanan dan hitungan kalori makanan kemasan?

Ditulis oleh Muhammad Ashadi pada 15-03-2010
Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu anda harus paham pengertian kalori. Kalori adalah satuan yang digunakan untuk mengukur energi. Kalori yang anda lihat di kemasan makanan sebenarnya adalah kilokalori, atau 1.000 kalori. Sebuah Kalori (kkal) adalah jumlah energi yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 derajat selcius dari 1 kilogram air. Kadang-kadang isi energi pangan dinyatakan dalam kilojoule (kj), satuan metrik. Satu kkal sama dengan 4,184 kj. Jadi Kalori pada paket makanan adalah 1.000 kali lebih besar daripada kalori yang digunakan dalam kimia dan fisika.
Metode asli yang digunakan untuk menentukan jumlah kalori dalam makanan yang diberikan secara langsung untuk mengukur energi makanan yang terbentuk. Makanan ditempatkan dalam sebuah wadah tertutup dikelilingi oleh air – sebuah alat yang dikenal sebagai bom kalorimeter. Makanan benar-benar dibakar dan mengakibatkan kenaikan pada suhu air yang akan diukur.
Pelabelan Nutrisi dan Undang-undang Pendidikan 1990 (NLEA / The Nutrition Labeling and Education Act of 1990) sedang menentukan informasi apa yang disajikan pada label makanan. NLEA mensyaratkan bahwa tingkat Kalori dimuat pada kemasan makanan yang dihitung dari komponen makanan. Menurut National Data Lab (NDL), sebagian besar nilai-nilai kalori di USDA dan tabel-tabel industri makanan didasarkan pada estimasi kalori yang tidak langsung dibuat dengan menggunakan system yang kita kenal sebagai system Atwater. Dalam sistem ini, kalori tidak dideterminasi secara langsung dengan membakar makanan. Sebaliknya, total nilai kalori dihitung dengan menambahkan kalori yang disediakan oleh energi yang mengandung zat gizi: protein, karbohidrat, lemak dan alkohol. . Karena karbohidrat mengandung beberapa serat yang tidak dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh, komponen serat biasanya dikurangi dari total karbohidrat sebelum menghitung kalori.
Sistem Atwater menggunakan nilai rata-rata dari 4 Kkal / g untuk protein, 4 Kkal / g untuk karbohidrat, dan 9 Kkal / g untuk lemak. Alkohol dihitung pada 7 Kkal / g. (Angka-angka ini awalnya ditentukan dengan membakar dan kemudian dirata-ratakan.) Jadi energi label pada bar yang berisi 10 g protein, 20 g karbohidrat dan 9 g lemak akan membaca 201 kkal atau Kalori. Pembahasan lengkap tentang subjek ini dan kalori yang terkandung di lebih dari 6.000 makanan dapat ditemukan di Data Lab Nasional di http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/ situs web. Di situs ini anda juga dapat mendownload database makanan untuk komputer genggam. Alat online lain yang memungkinkan pengguna untuk menjumlahkan isi kalori dari beberapa makanan adalah Alat Analisis Nutrisi di http://www.nat.uiuc.edu.


Mujahid Muda dan Sang Istri Penyabar

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah). 
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi

(muslimahzone.com/arrahmah.com)
Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran

Rabu, 20 Safar 1434 H / 2 Januari 2013 21:40

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
(Arrahmah.com) – Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran

Rabu, 20 Safar 1434 H / 2 Januari 2013 21:40

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
(Arrahmah.com) – Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran

Rabu, 20 Safar 1434 H / 2 Januari 2013 21:40

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
(Arrahmah.com) – Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran

Rabu, 20 Safar 1434 H / 2 Januari 2013 21:40

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
(Arrahmah.com) – Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran

Rabu, 20 Safar 1434 H / 2 Januari 2013 21:40

Kisah mujahid muda dan sang istri penyabar di tanah Iran
(Arrahmah.com) – Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, “Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali.” Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan “Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!”
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, “Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?” Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
“Hey!” ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. “Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!” lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) “Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami  akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama.”
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
Oleh: Nasser Balochi
(muslimahzone.com/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2013/01/02/25851-kisah-mujahid-muda-dan-sang-istri-penyabar-di-tanah-iran.html#sthash.QLGQZowv.dpuf

Air Limbah Menghasilkan Listrik dan Air Terdesalinasi

Ditulis oleh Indygo Morie pada 18-08-2009
Suatu proses yag dapat membersihan air limbah dan juga dapat menghasilkan sumber listrik dapat diterapkan untuk mengurangi 90 persen garam yang terkandung dalam suatu larutan atau air laut, hal ini dinyatakan oleh tim peneliti internasional dari China dan Amerika.
Air bersih untuk  minum, mencuci, dan industri terdapat dalam jumlah yang terbatas dibeberapa Negara yang ada di dunia. Ketersediaannya di masa yang akan datang menjadi salah satu permasalahan dunia. Beberapa Negara menerapkan proses desalinasi air dengan menggunakan osmosis balik-yaitu proses yang menerapkan tekanan tinggi pada air melalui suatu membran yang hanya dapat dilewati oleh molekul air bukan molekul garamnya-atau ada juga yang menerapkan elektrodialisis yaitu proses yang menggunakan listrik untuk memisahkan ion-ion garam dari air melalui suatu membrane. Yang perlu di catat kedua proses diatas sama-sama mengkonsumsi energi yang tinggi.
“Desalinasi air dapat dilakukan tanpa energi listrik atau tekanan yang tinggi dengan cara menggunakan sumber materi organic sebagai bahan bakar untuk mendesalinasi air”, para peneliti melaporkan dalam jurnal Environmental Science and Technology.
“Salah satu kendala yang dihadapi untuk proses desalinasi air adalah dibutuhkannya energi listrik yang cukup banyak, dan dengan menggunakan desalinasi sel mikroba kami secara nyata dapat mendesalinasi air sekaligus menghasilkan listrik pada saat kami mengambil material organic dari air limbah”, kata Bruce Logan, Profesor Kappe dari Environmental Engineering, Penn State.
Tim tersebut memodifikasi mikroba fuel sel yaitu suatu alat yang mengunakan bakteri secara alami untuk mengubah air limbah menjdai air bersih dan listrik-sehingga alat ini dapat dipakai untuk desalinasi air laut.
“Tujuan kami adalah untuk menunjukkan bahwa dengan menggunakan bakteri kami dapat memproduksi sejumlah arus listrik yang mampu melakukan hal ini”,  kata Logan. “Bagaimanapun juga proses ini membutuhkan 200 mililiter air limbah buatan-asam cuka dalam air-untuk mendesalinasi 3 mililiter air garam. Hal ini bukan merupakan hal praktis sebab sistem kami belum teroptimalkan tapi hal ini cukup memberi bukti bahwa konsep yang kami ajukan terbukti berhasil.
Mikroba fuel sel terdiri dari dua bilik, satu bilik diisi dengan air limbah atau nutrien dan satunya diisi dengan air, setiap bilik terdapat elektroda. Secara alami bakteri yang terdapat dalam limbah akan mengkonsumsi material organic yang terdapat dalam limbah dan sekaligus meghasilkan arus listrik.
Dengan sedikit mengubah mikroba fuel sel yaitu dengan cara menambah bilik ketiga diantara dua bilik yang sudah ada dan meletakkan sejumlah membrane yang spesifik terhadap ion—yaitu membrane yang dapat dilewati ion positif aja atau sebaliknya dan tidak dapat dilewati keduanya –yang diletakkan diantara bilik pusat dan elektroda positif dan negative. Air yang mengandug garam kemudian diletakkan di bilik ini.
Air laut mengandung sekitar 35 gram perliter sedangkan air garam biasanya haya 5 gram perliter. Garam tidak hanya terlarut dalam air akan tetapi juga terdisosiasi menjadi ion positif dan negative. Pada saat bakteri dalam fuel sel tersebut mengkonsumsi material yang ada dalam air limbah maka akan dihasilkan proton. Proton ini tidak bisa melewati membrane anion sehingga ion negative dari bilik pusat akan megalir ke bilik tempat air limbah untuk menyeimbangkan ion positif. Pada elektroda yang lain proton terkonsumsi sehingga ion positif dari bilik pusat mengalir ke bilik tersebut. Hasil proses totalnya air laut / air garam yang ada di bilik pusat akan terdesalinasi.
Dikarenakan gram membantu fuel sel untuk menghasilkan listrik maka etika bilik pusat enjadi semakin encer (kadar garamnya berkurang) maka konduktifitas sel berkurang dan produksi listrikpun berkurang juga, hal inilah yang menyebabkan mengapa hanya 90 persen kadar garam yang bisa dihilangkan.
Permasalahan lain adalah ketika proton dihasilkan pada salah satu elektroda dan proton dikonsumsi pada elektroda yang lain maka salah satu bilik akan bersifat asam sedangkan yang lain bersifat basa.Dengan mecampur kedua cairan dari dua bilik ini ketika mereka dibuang akan menghasilkan cairan netral sehingga permasalahan ini dapat diatasi. Akan tetapi kemampuan bakteri hidup dalam kondisi asam ketika sel dijalankan menjadi satu permasalahan lain sehingga dalam eksperimen tim menambhakan buffer secara periodic untuk mengatasi hal ini. Masalah ini tidak akan menjadi kendala ketika sistem kami telah menghasilkan sejumlah air terdesalinasi dalam jumlah yang cukup. Tak heran jika eksperimen tim ini di support oleh King Abdullah University of Science and Technology, Saudi Arabia and Ministry of Science and Technology, China
Sumber artikel dan gambar:
http://www.sciencedaily.com/releases/2009/08/090806112601.htm