Sabtu, 16 Maret 2013

Minuman Jus Cranberry Dapat Menjauhkan Infeksi

Ditulis oleh Awan Ukaya pada 13-08-2010
Studi menunjukkan bahwa pengobatan secara rumahan mencegah bakteri dari pembentukan biofilm
Bethany Halford
Dengan meminum segelas jus cranberry setiap hari dapat menhilangkan urinary tract infections (UTI), atau semacamnya berdasar cerita penyembuhan secara rumahan. Hingga baru-baru ini, bagaimanapun, para ilmuwan menanggapi tentang  keuntungan minuman cranberry sedikit yang mempercayainya.
Sekarang ini, sebuagh tim yang dipimpin oleh Terri A. Camesano dan Yuanyuan Tao dari Worcester Polytechnic Institute, di Massachusetts, telah menunjukkan bahwa meminum jus cranberry dapat mencegah Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan UTI lainnya yang menyebabkan bakteri dari melekatnya pada saluran urinary dan membentuk biofilm pada saluran tersebut.
Pekerjaan ini ditunjukkan pada pertemuan nasional ACS di San Francisco selama sesi Division of Colloid & Surface Chemistry saat Minggu sore.
Para peneliti secara sukarela meminum baik air minum atau jus cocktail cranberry dan kemudian memelajari beberapa efek urin mereka pada bakteri. Dengan menggunakan penyelidikan melalui mikroskop bertenaga atom, mereka mengukur kemampuan bakteri untuk melekat—suatu langkah awal yang perlu bagi formasi biofilm yang terlihat pada UTI. Urin dari para sukarelawan tersebut yang meminum jus cocktail cranberry mencegah terjadinya penempelan bakteri dan formasi biofilm. Bakteri yang diperlakukan dengan urin dari para sukarelawan  yang meminum air minum, di lain pihak, masih mampu melekat dan membentuk biofilms.
Kemampuan tempur UTI dari jus cranberry bertahan antara enam hingga 24 jam setelah dikonsumsi, kata Camesano. Dia juga menjelaskan bahwa diet jus cranberry hampir sama efektifnya dengan bahan-bahan bergula, jadi hal ini sangat mungkin untuk menghindari infeksi tanpa perlu mengkhawatirkan tentang masalah ukuran pinggang anda.

Tembakau untuk Penderita Diabetes

Ditulis oleh Dea Sukrisna pada 30-08-2010
Bidang pertanian saat ini menghasilkan perkembangan bioteknologi molekular yang pesat, yang dapat menawarkan cara yang lebih murah daripada pembuatan vaksin dan obat tradisional melalui pabrik. Para ilmuwan telah menemukan tembakau yang menyehatkan setelah memodifikasi faktor genetiknya. Tembakau ini dapat digunakan untuk mengobati diabetes tipe 1.
Peneliti Eropa mengatakan telah menghasilkan tembakau yang mengandung senyawa anti-inflamasi (anti-peradangan) yang disebut interleukin-10 (IL-10) yang dapat membantu pasien diabetes tipe 1 yang masih menggantungkan insulin. Sejumlah perusahaan kimia pertanian, termasuk Bayer dan Syngenta, telah mencari cara untuk membuat kompleks protein dalam tanaman obat-obatan, meskipun membutuhkan proses yang lambat.
Pada saat ini, kebanyakan obat-obatan dan vaksin diproduksi melalui kultur sel dan kultur jaringan. Namun, Mario Pezzotti dari Universitas Verona, yang memimpin studi tentang tembakau yang diterbitkan dalam jurnal BMC Biotechnology, percaya bahwa tembakau tumbuh lebih efisien semenjak tanaman dunia memiliki biaya rendah untuk menghasilkan protein obat.
Berbagai jenis tanaman telah dipelajari oleh sejumlah ilmuwan di seluruh dunia, tetapi tembakau merupakan tanaman yang paling digemari dalam hal riset. “Tembakau adalah tanaman yang fantastis karena mudah mentransformasi genetik dan dengan mudah dapat mempelajari seluruh tanaman dari satu sel,” ungkap Pezzotti. Kelompoknya bekerja dan menaruh minat terhadap tembakau raksasa, yaitu Philip Morris, yang mendukung konferensi tanaman berbasis obat di Verona pada bulan Juni.
Pezzotti dan koleganya – yang menerima dana untuk penelitiannya dari Uni Eropa – sekarang berencana untuk megujicobakan tanaman tersebut ke tikus yang memiliki penyakit autoimmune untuk mengetahui responnya.
Selanjutnya, mereka ingin menguji apakah pengulangan dosis kecil dapat membantu mencegah penyakit kencing manis pada orang, ketika diberikan bersamaan dengan senyawa lain yaitu glutamic acid decarboxylase (GAD65), yang juga telah diproduksi di tanaman tembakau.
Diamyd, perusahaan bioteknologi di Swedia sudah menguji secara konvensional vaksin GAD65 terhadap penderita diabetes dalam masa uji coba klinis. Bidang pertanian molekuler belum menghasilkan produk komersial pertama, walaupun Israel Protalix BioTherapeutics telah melakukan uji klinis lanjutan pada enzim untuk pengobatan penyakit Gaucher yang dihasilkan melalui kultur sel wortel. Protalix rencana untuk mengirimkan obatnya untuk persetujuan dari Amerika Serikat dan Israel.

Permen karet yang tidak lengket

Ditulis oleh Soetrisno pada 27-10-2010
Pernah mengalami baju kesayangan Anda tertempel permen karet yang dibuang sembarangan? Atau mungkin permukaan sepatu Anda tertempel permen karet yang bertebaran di jalan-jalan? Cuma satu kata untuk mengungkapkan pengalaman tersebut, Menyebalkan !!!
Kali ini kamu tidak perlu khawatir lagi dengan pengalaman-pengalaman buruk tersebut karena sebuah tim penelitian yang dipimpin oleh Terence Cosgrove dari the University of Bristol, UK berhasil membuat produk permen karet baru yang mudah untuk dilepaskan dari rekatannya dibandingkan dengan permen karet pada umumnya sementara tetap menjaga citra rasa permen karet. Permen karet ini telah dipasarkan di Amerika dan berhasil merebut hati para konsumen disana.
Pada tahun 2007, Terence Cosgrove and koleganya bekerja sama dengan perusahaan Revolymer pertama kali mengumumkan bahwa mereka telah berhasil menciptakan sebuah produk baru permen karet yang dapat dilepaskan dengan mudahnya dari hampir berbagai permukaan dan juga mudah berdispersi dalam air. Sejak itu, tim ini bergelut untuk menciptakan formulasi permen karet yang mampu dikomersialkan dan mampu untuk berkompetisi dengan produk-produk rival permen karet tradisional.
“Penelitian saya dimulai lebih dari 30 tahun yang lalu ketika saya tertarik dengan bagaimana polimer berinteraksi dengan permukaan sehingga bisa memecahkan misteri dari masalah dari penelitian ini” kata Cosgrove. “Tetapi motivasi saya sesungguhnya untuk menciptakan produk ini adalah ketika saya melihat begitu banyaknya permen karet yang berserakan di sepanjan jalan Inggris dan Amerika – permen karet itu ada diseluruh penjuru!!”
Permen karet tradisional menggunakan poly(styrene-co-butadiene) atau poly(ethylene-co-vinylacetate) sebagai bahan dasar karet. Namun, materi-materi memiliki sifat merekat ke permukaan dengan cepat dan sangat sulit untuk dilepaskan bahkan dengan deterjen sekalipun. Permen karet baru, yang dinamakan Rev7, berhasil mengatasi permasalahan ini karena permen ini merupakan amphiphilik kopolimer sisir yang terbuat dari bahan polisoprene sebagai kerangka utama dan poly(ethylene oxide) (PEO) sebagai cabangnya.
‘amphiphilik kopolimer graft ini tidak hanya akan mengurangi kekuatan adisi kepada permukaan, tetapi juga akan mengedrasi menjadi komponen polimer yang lebih mudah larut dalam air sehingga akan lebih mudah dibersihkan,’ komentar Stefan Bon, seorang kimiawan polimer di University of Warwick, UK. ‘Untuk mengatasi hal ini ada dua pemecahaan yang cermat, yaitu membuat permen karet yang tidak mudah lengket dan mudah dibersihkan sehingga lebih ramah lingkungan,’ tambahnya.
‘Banyak surfaktan yang membuat ikatan kompleks dengan PEO seperti sodium dodecyl sulfate, komponen yang umum digunakan dalam sabun dan deterjen, dan memudahkan deterjen lembut untuk melepas permen karet yang kita ciptakan dari berbagai permukaan termasuk pakaian dan karpet,’ ujar Cosgrove. Sifat hidrophilik dari PEO yang memungkinkan permen karet untuk stabil dan menyerap air merupakan salah satu kunci dari degradasi permen karet. ‘Permen karet ini akan terurai di dalam air menjadi partikel-partikel kecil dalam enam bulan dan oleh karenanya akan kembali kepada lingkungannya,’ tambah Cosgrove.

Mengenal Xylitol Gula Langka yang Menyehatkan


Ditulis oleh Abi Sofyan Ghifari pada 07-06-2012
Anda mungkin pernah mendengar nama xylitol pada beberapa produk seperti permen dan pasta gigi. Jenis gula ini dinilai dapat mengatasi masalah kesehatan gigi dan lainnya. Namun apa sebenarnya kelebihan xylitol dibandingkan jenis gula lain yang kita kenal selama ini?
Xylitol sebenarnya bukan merupakan molekul gula monosakarida (gula tunggal) yang memiliki gugus kimia aldehida (seperti pada glukosa) atau keton (seperti pada fruktosa). Gula langka ini merupakan senyawa berkarbon lima dengan lima gugus alkohol/hidroksil (disebut juga pentitol). Xylitol disebut gula langka karena hanya sedikit terdapat pada buah dan sayuran alami dan pembuatannya boleh dikatakan cukup sulit dibanding senyawa pemanis lainnya. Oleh karena itu dari segi harga pun, xylitol merupakan salah satu pemanis termahal dibanding pemanis lainnya.
Tingkat kemanisan xylitol yang setara dengan sukrosa (gula dapur) membuatnya banyak digunakan sebagai pemanis produk makanan dan confectionary. Kelebihannya dibanding sukrosa adalah energinya yang lebih rendah, yaitu hanya 2.4 kalori/gram dibanding dengan sukrosa yang mencapai 4 kalori/gram. Xylitol juga memiliki kelarutan yang sangat baik di dalam air dan menimbulkan sensasi dingin ketika larut di mulut sehingga banyak digunakan pada produk permen mint, permen karet, dan pasta gigi. Namun lebih dari itu semua kelebihannya yang utama adalah efek biologisnya yang menyehatkan.
Xylitol yang memiliki kalori yang rendah sangat bermanfaat sebagai pemanis makanan/minuman bagi penderita diabetes. Gula langka ini juga bermanfaat mencegah karang gigi dan karies. Hal ini dikarenakan keberadaan xylitol akan menekan pertumbuhan bakteri di dalam mulut yang kebanyakan mengonsumsi glukosa sebagai bahan makanan mereka, sehingga bakteri tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik pada kondisi tinggi xylitol. Manfaat xylitol inilah yang telah digunakan pada dunia kedokteran gigi dan juga pada beberapa produk perawatan dental seperti permen karet anti-karies dan pasta gigi. Selain itu, xylitol juga ditemukan dapat mencegah infeksi telinga pada anak-anak.
Saat ini industri xylitol sangat menjanjikan dan teknologi sintesisnya terus dikembangkan. Gula langka ini memang sulit diperoleh secara alami dan harus disediakan lewat jalan sintesis kimiawi atau biologis. Jalur sintesis kimiawi untuk xylitol antara lain dengan hidrogenasi D-xylosa menggunakan katalis logam. Namun, dikarenakan D-xylosa merupakan prekursor yang cukup mahal, saat ini para ilmuwan tengah mengembangkan teknik sintesis xylitol dari D-glukosa.
Selain sintesis secara kimiawi, metode sintesis lainnya yang paling banyak digunakan adalah dengan metode bioteknologi mikrobiologi. Metode ini menggunakan mikroorganisme yang diberi “makan” berupa gula xylosa sehingga akan menghasilkan xylitol yang kemudian akan dipanen. Mikroorganisme yang cukup potensial untuk menghasilkan xylitol antara lain ragi Saccharomyces cereviseae dan Candida utilis. Kelebihan metode ini ialah hasilnya yang mencapai persentase yang lebih tinggi dibanding sintesis kimiawi yaitu hingga mencapai 95% hasil. Tetapi jelas metode ini membutuhkan fasilitas teknologi yang maju dan relatif mahal.
Di Indonesia sendiri, xylitol masih diimpor dari luar karena ketiadaan teknologi untuk sintesisnya. Sebagai produk yang cukup menjanjikan di masa depan, tentu kita berharap Indonesia dapat berswasembada xylitol lewat kerjasama para ilmuwan, industri, dan pemerintah.